Nada 1 – Sistem Diatonis

Saat belajar suatu lagu kita familiar dengan nada yang dilafalkan sebagai DO, RE, MI, FA, SOL, LA, SI. Masing-masing nada itu punya tinggi suara tertentu. Nah, apakah ada aturan khusus soal tinggi nada tersebut ?

Setelah belajar mengenai suara, kita tahu bahwa tinggi rendahnya nada ditentukan oleh frekuensi gelombang suara. Namun manusia jaman dulu sepertinya belum mengenal konsep tersebut. Hanya melalui coba-coba, mereka bisa menemukan fakta bahwa:

  • Suara akan terdengar makin tinggi jika dawai diperpendek atau dipertegang (pada alat musik harpa atau siter).
  • Jika dawai ditekan di tengah, maka suara akan terdengar mirip dengan tanpa ditekan, namun terasa lebih tinggi.

Fakta yang kedua itu membawa pengertian yang disebut octave, yaitu jarak nada dimana suara akan terdengar menjadi dua kali lebih tinggi. Diantara dua nada yang berbeda tinggi satu octave tersebut, kemudian diberi nada antara, sehingga terciptalah tangga nada (scale)[1]. Arti secara bebas, tangga nada adalah urutan nada-nada yang punya aturan tertentu sehingga pas untuk membawakan suatu lagu.

Dari telaah di berbagai belahan dunia, terbukti bahwa berbagai bangsa di dunia ini punya konvensi sendiri dalam membuat tangga nada. Di Indonesia, khususnya pada alat musik tradisionil gamelan, satu oktaf dibagi menjadi 5 nada (pentatonis). Lebih jauh, tangga nada gamelan dibedakan menjadi laras slendro serta pelog. Namun para empu gamelan kuno belum memiliki standar yang eksak, sehingga tangga nada gamelan di-tala berdasarkan rasa masing-masing empu. Akibatnya tiap gamelan memiliki tangga nada yang tidak tepat sama. Bahkan ada yang mengatakan, banyaknya tangga nada di Jawa sama banyaknya dengan unit gamelan. Untuk mencobanya sendiri, situs Data Sunda menyediakan perangkat lunak  TITI LARAS yang sangat menarik.

Sementara itu di Yunani kuno, para empu menyusun tangga nada berdasarkan perbandingan panjang senar menurut bilangan bulat. Hasilnya mereka mendapat tangga nada yang disebut just-scale [2]. Secara harmonik, tangga nada ini sangat sempurna. Namun masalah akan muncul ketika lagu-lagu semakin kompleks dan perlu menggeser nada (transpose).

Ketika pemahaman sains muncul, bahwa tinggi nada ditentukan oleh frekuensi, muncullah ide untuk membuat tangga nada yang didasarkan pada perbandingan frekuensi secara tetap. Agar dapat mewakili berbagai tangga nada (terutama just-scale), akhirnya satu oktaf dibagi menjadi 12 nada, dimana perbandingan antara suatu nada ke nada berikutnya haruslah sama. Sebutlah perbandingan itu sebagai R. Karena dalam satu oktaf frekwensi berlipat dua, maka harus berlaku:

R * R * R * R * R * R * R * R * R * R * R * R = 2

Buat yang suka matematika, lihat referensi [3] untuk menghitung harga R.

Tanpa kehilangan konsep, kita lanjutkan saja dengan menyadari bahwa dalam satu oktaf ada 12 nada. Namun dalam suatu lagu, tidak semua nada ini sering dimainkan. Akhirnya diputuskan untuk membagi 12 nada itu menjadi 7 nada penuh dan 5 nada kromatis. Sistem ini nampak jelas pada tuts-tuts piano, dimana nada-nada penuh adalah tuts berwarna putih, sementara nada kromatis adalah tuts berwarna hitam. Karena adanya dua kelompok nada inilah, sistem tangga nada ini kemudian disebut diatonis. 

Nada-nada pada sistem diatonis ini diberi nama memakai huruf. Untuk nada penuh (7 buah), digunakan huruf A sampai dengan G, tapi mulainya dari C. Sementara itu untuk nada kromatis, ditambahkan huruf # (sharp, naik setengah nada) atau b (mol, turun setengah nada), namun ada dua nada yang tak punya nada kromatis yaitu antara B-C dan E-F.  Selengkapnya nama nada pada sistem diatonis adalah:

C – C# – D – D# – E – F – F# – G – G# – A – A# – B

atau bisa juga dituliskan sebagai:

C – Db – D – Eb – E – F – Gb – G – Ab – A – Bb – B

Sementara itu, frekuensi suara yang bisa didengar manusia adalah dari 20 Hz hingga 20.000 Hz. Untuk mencakup rentang frekuensi tersebut, sistem diatonis menetapkan adanya 8 oktaf nada. Nada paling rendah diberi nama C0, demikian seterusnya hingga paling tinggi adalah B8. Kemudian untuk kepastian frekuensi, ditetapkan bahwa nada A4 frekuensinya adalah 440 Hz. Pada gambar berikut, bisa disimak nama nada pada suatu piano, berikut frekuensinya [4].

Nama Nada - Nomor MIDI - Frekuensi

Nama Nada – Nomor MIDI – Frekuensi

Sebagai catatan, pada Gambar tersebut, tuts tengah piano adalah nada C4 sesuai perjanjian Internasional. Yang membingungkan, beberapa vendor seperti Yamaha, menamai tuts tengah ini sebagai C3 (mungkin karena kepercayaan bahwa angka 4 adalah angka sial). Terima saja ke-tidak konsistenan ini 🙂

Referensi:

[1]. http://en.wikipedia.org/wiki/Scale_(music)

[2]. http://www.phy.mtu.edu/~suits/scales.html

[3]. http://www.phys.unsw.edu.au/jw/notes.html

[4]. 
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/7/7a/NoteNamesFrequenciesAndMidiNumbers.svg

 

Related posts:

Suara 01 - Gelombang Suara
Suara adalah sesuatu yang kita dengar melalui telinga. Itu menurut kita, orang awam. Kalau...
Suara 02 - Campuran Suara
Para pelukis suka mencampur warna. Misalnya saja warna biru dicampur merah jadi ungu, atau...
Suara 03 – Spektrum Suara
Jika suara sudah tercampur, mungkinkah kita memisahkannya lagi menjadi gelombang-gelombang...
Doremi 2 - Banyak Suara
Minggu kedua latihan klungbot, kang Asep mengusulkan lagu “Que Sera Sera” dengan banyak su...
Doremi 3 - Banyak Instrumen
Sekitar akhir dekade 1960-an, Pak M. Burhan memelopori suatu ensemble yang diberi nama aru...
Doremi 5 - Ritme
Ritme adalah sepotong untaian nada yang berulang-ulang dengan beat yang sama, namun bisa b...
Nada 2 - Angklung Melodi
Ketika Pak Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis, sekitar tahun 1930-an, bangsa Ind...
Doremi 6 - Perkusi
Perkusi adalah alat musik tetabuhan misalnya kendang, atau drum. Dalam suatu lagu, perkusi...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two + 7 =