Nada 2 – Angklung Melodi

Ketika Pak Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis, sekitar tahun 1930-an, bangsa Indonesia masih buta sistem diatonis. Mungkin karena itu beliau ambil jalan gampang saja, semua angklung diberi nomor urut mulai dari 1 sampai 31. So, jangan bingung kalau latihan angklung ada yang bilang, “DO nya main di 6”.

Keputusan Pak Daeng menentukan angklung nomor 1 didasarkan pada biola. Kebetulan nada paling rendah yang dapat dimainkan biola adalah G3, maka jadilah angklung dengan nada itu menjadi nomor 1, nada G#3 menjadi nomor 2, dan seterusnya. Penomoran ini bisa kita temui pada angklung melodi, yang jika lengkap, jumlahnya ada 31. Dalam perkembangannya, ternyata ada yang menginginkan nada lebih rendah dari G3. Dengan cepat, diputuskan untuk membuat angklung bernada F#3 sebagai nomor 0. Di pasaran, tersedia angklung melodi ini untuk versi 2 tabung (1 indung + 1 anak) maupun 3 tabung (2 indung + 1 anak).

Seiring dengan makin kompleksnya lagu yang ingin dimainkan, muncul kebutuhan untuk nada yang lebih rendah lagi. Namun rasanya tidak enak kalau diberi nomor -1, -2, dan seterusnya. Karena itulah angklung yang lebih besar kemudian dipisah, dan diberi nama bass party yaitu dari nada G2 – F3 (11 buah). Untuk set angklung yang lebih rendah dari G2, mahasiswa KPA ITB menyebutnya sebagai angklung gajah, sementara sebaliknya untuk angklung yang lebih tinggi dari nada C6 mendapat nama angklung semut.

Angklung_Gajah_Ochim_Eko

Jika ingin lebih rendah lagi, sekarang yang problem adalah manusianya. Siapa yang kuat mengangkat angklung yang lebih besar dari gajah ? Karena itu untuk nada lebih rendah, dipakai bass lodong, berupa 1 tabung bambu yang besar, dan dimainkan dengan dipukul. Set bass lodong biasanya terdiri atas 13 tabung (G1-G2) atau 16 tabung (C1-G2).

Lodong - Kang Asep

Sementara itu, untuk pemain pemula atau sekedar souvernir, dibuat juga angklung yang terdiri atas nada-nada penting saja. Beberapa varian yang sering dijumpai adalah:

  • Angklung Sarinande : nada penuh untuk kunci C, dari C4 – C5 (8 buah).
  • Angklung Sarinande Plus : nada penuh untuk kunci C, dari G3 – E5 (13 buah).
  • Angklung TK : nada penuh untuk kunci C, G dan F, dari F3 – F5 (18 buah).

Demikianlah. Pak Daeng Soetigna sebenarnya sudah menerapkan konsep sistem diatonis dengan baik. Namun seiring kebutuhan, muncul variasi unit angklung yang beragam, dan tidak sama dari satu pihak dengan pihak lain. Keinginan untuk membuat standar angklung sudah didengungkan olah banyak pihak. Sambil menanti hal itu terwujud, sebaiknya periksa sebelum membeli. Pernah ada kejadian suatu sekolah ingin ikut lomba paduan angklung, dan dipesani untuk membeli angklung unit lengkap sebanyak 55 buah (terdiri atas 31 angklung melodi, dan 24 angklung akompanimen). Namun karena kurang paham, yang dibeli adalah 4 unit angklung TK (yang masing-masing 18 buah). Tentu saja itu tidak bisa dipakai untuk aransemen yang kompleks.

Selengkapnya, silahkan diunduh saja Tabel Nada Angklung berikut.

Related posts:

Rahasia Angklung Padaeng 1 - M...
Akhirnya setelah lewat 75 tahun, Pak Daeng Soetigna (alm) mendapat pengakuan resmi sebagai...
Angklung
Angklung adalah alat musik tradisionil asal Indonesia yang terbuat dari bambu. Alat ini mu...
Isyarat Angklung Interaktif
Angklung interaktif adalah acara bermain angklung beramai-ramai secara langsung, tanpa pak...
Suara 01 - Gelombang Suara
Suara adalah sesuatu yang kita dengar melalui telinga. Itu menurut kita, orang awam. Kalau...
Suara 02 - Campuran Suara
Para pelukis suka mencampur warna. Misalnya saja warna biru dicampur merah jadi ungu, atau...
Doremi 5 - Ritme
Ritme adalah sepotong untaian nada yang berulang-ulang dengan beat yang sama, namun bisa b...
Rahasia Angklung Padaeng 3 - S...
Saking mudahnya, anak taman kanak-kanakpun bisa bermain angklung. Untuk mereka Pak Daeng S...
Doremi 6 - Perkusi
Perkusi adalah alat musik tetabuhan misalnya kendang, atau drum. Dalam suatu lagu, perkusi...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two + 3 =