Seberapa Universal-kah Musik Angklung?

Dalam dunia angklung sering kali muncul peryataan bahwa musik angklung adalah musik yang universal dan dapat memainkan segala jenis musik. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal tersebut dapat dibenarkan?? Apalagi angklung sebagai alat musik memiliki karakteristik yang unik sehingga saya merasa pasti ada batasan dalam memainkan musik yang dimiliki oleh angklung.

Nada 2 – Angklung Melodi

Ketika Pak Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis, sekitar tahun 1930-an, bangsa Indonesia masih buta sistem diatonis. Mungkin karena itu beliau ambil jalan gampang saja, semua angklung diberi nomor urut mulai dari 1 sampai 31. So, jangan bingung kalau latihan angklung ada yang bilang, “DO nya main di 6”.

Doremi 4 – Akord

Dalam partitur lagu, sering kita temui ada baris nada-nada utama dalam not angka, kemudian diatasnya ada huruf besar yang menyatakan akord. Biasanya akord ini dimainkan dengan gitar atau organ. Notasi doremi mengusulkan cara yang inovatif untuk menuliskan hal ini.

Tour Intel

Seseorang menelpon dan bertanya, “Klungbot pakai komputer apa ya?”. Langsung dijawab dengan cepat, “Pakai Linux, tapi Windows dan Mac OS juga bisa”. Eh, ternyata si penelepon adalah orang Intel. Gawat, … ngak relevan deh.

Doremi 3 – Banyak Instrumen

Sekitar akhir dekade 1960-an, Pak M. Burhan memelopori suatu ensemble yang diberi nama arumba (alunan rumpun bambu) [1][2]. Sesuai namanya, ensemble ini terdiri atas berbagai alat musik bambu seperti angklung, gambang melodi, gambang pengiring, bass lodong maupun calung. Nah, bagaimanakah kita bisa mengaransemen lagu untuk dimainkan oleh berbagai alat musik ini ?

Doremi 2 – Banyak Suara

Minggu kedua latihan klungbot, kang Asep mengusulkan lagu “Que Sera Sera” dengan banyak suara. Tantangan aransemen lagu ini adalah, ada bagian dimana suara satu memainkan angklung secara centok, sementara suara dua mengiringinya secara kurulung. Kemudian, lagu di tutup dengan enam suara sekaligus. Apakah si robot sanggup ???