Rahasia Angklung Padaeng 1 – Melodi

Akhirnya setelah lewat 75 tahun, Pak Daeng Soetigna (alm) mendapat pengakuan resmi sebagai bapak pencipta angklung (diatonis). Apa rahasia dibalik angklung padaeng yang membedakannya dengan angklung tradisionil sebelumnya ?

Pertama, jangan keliru, Pak Daeng bukanlah pencipta angklung. Alat musik angklung itu sudah ada di bumi Nusantara sejak dahulu kala, di jaman Hindu. Buktinya, orang Badui memainkan angklung kanekes, sementara di Bali ada angklung rindik. Namun, angklung leluhur itu umumnya memakai laras tradisionil (slendro / pelog), bahkan ada yang tanpa nada (sekedar ritmis).

Inovasi yang dilakukan oleh Pak Daeng adalah, menyesuaikan angklung dengan tangga nada diatonis, yaitu tangga nada musik Eropa yang sudah ter-standarisasi dengan baik. Pada masa itu, tahun 1930-an, musik yang dianggap mumpuni adalah musik klasik yang dimainkan dengan piano, biola, klarinet. Berbagai alat musik itu dimainkan bersama dengan begitu harmonis. Hal itu hanya bisa tercapai ketika semua alat musik memakai tangga nada yang sama, yaitu diatonis.

Nah, agar angklung dapat sejajar dengan alat musik dunia tersebut, mau tak mau angklung harus memakai tangga nada diatonis. Terus apa susahnya memindah angklung yang semula pentatonis jadi diatonis ? Pertanyaan itu harus dijawab seperti telur Colombus. Segala hal itu tampak mudah kalau sudah ada yang pertama melakukannya ūüėÄ

Dalam rangka menyesuaikan angklung dengan tangga nada diatonis, inovasi Pak Daeng adalah mendefinisikan bahwa unit angklung terdiri atas:

  1. Angklung melodi
  2. Angklung akompanimen.

Kita akan mengupasnya satu persatu. Mulai dengan angklung melodi. Sebelum melanjutkan, ada baiknya baca dulu mengenai sistem diatonis.

Angklung Melodi

Angklung melodi adalah angklung yang dikhususkan untuk memainkan nada-nada utama suatu lagu (bukan nada pengiring !). Dalam partitur musik klasik, nada-nada untuk itu biasanya ditulis pada balok treble (treble clef). Dalam konser musik klasik, bagian tersebut biasanya dimainkan oleh:

  1. Piano yang akan dimainkan dengan tangan kanan (tangan kiri biasanya untuk pengiring)
  2. Violin (bukannya viola, cello, atau contra bass).

Mengikuti kebiasaan itu, Pak Daeng soetigna memutuskan bahwa nada angklung melodi terendah adalah nada G3 (sesuai dengan violin). Sementara itu untuk nada tertinggi, diputuskan berhenti pada nada C6. Dari situlah, muncul jumlah angklung melodi sebanyak 30 buah, dengan rentang nada sebagai berikut:

  • 5 buah nada oktaf 3 ¬†(G3, G#3, A3, A#3, B3)¬†
  • 12 buah nada oktaf 4 ¬†(C4, C#4, D4, D#4, E4, F4, F#4,¬†G4, G#4, A4, A#4, B4)
  • 12 buah nada oktaf 5¬†(C5, C#5, D5, D#5, E5, F5, F#5,¬†G5, G#5, A5, A#5, B5)
  • 1 buah nada oktaf 6 (C6)

Namun karena orang Indonesia pada masa itu tidak familiar dengan nama-nama nada diatonis, Angklung melodi ini diberi nomor urut 1 (nada G3) hingga 30 (nada C6). Karena itulah jika kita memainkan lagu dengan nada dasar C, maka nada DO nya adalah angklung nomor 6, RE angklung nomor 8, dan seterusnya.

Angklung melodi

Angklung melodi

Setelah menentukan rentang nada standar, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana membuat angklung melodi. Anda pasti sudah biasa melihat bahwa suatu angklung biasanya memiliki tabung indung (besar) dan tabung anak (kecil). Ada yang dua tabung (Gambar a), ada yang 3 tabung (Bambar b,c). Jika anda bertanya kepada seniman angklung mengapa begitu, jawaban praktis adalah:

Tabung kecil berfungsi menguatkan suara tabung besar

Sementara itu jawaban filosofis adalah:

Angklung mencerminkan indung yang selalu menjaga anaknya

Ya, itulah nilai-nilai yang entah bagaimana,  ditemukan oleh leluhur pencipta angklung. Pak Daeng menerapkan al itu pada angklung melodi dengan menetapkan:

  • Tabung indung adalah nada akar yang diinginkan (misal C3)
  • Tabung anak adalah nada satu oktaf diatas nada akar (yaitu C4).

Mengapa Pak Daeng menetapkan seperti itu ? Jawabannya adalah, bahwa dalam musik ada yang disebut dissonant (suara beda nada yang tidak enak didengar) dan konsonant (suara beda nada yang enak didengar). Diantara konsonant adalah:

  • Unison, adalah paduan dua suara dari sumber berbeda yang frekuensinya sama.
  • Octave, adalah¬†paduan suara dari sumber berbeda, dengan frekuensi kelipatan 2.

Dengan prinsip tersebut, maka muncullah beberapa varian angklung melodi :

  1. Angklung melodi dua tabung, dengan tabung besar sebagai nada akar, ditemani tabung kecil sebagai kosonan octave-nya.
  2. Angklung melodi tiga tabung  memiliki 2 tabung besar yang bersifat unison, ditambah tabung kecil yang menjadi octave-nya.

Nah, terlihat bukan bahwa Pak Daeng Soetigna tidak asal-asalan saja berinovasi membuat Angklung Diatonis. Ada teori musiknya yang valid, bukan sekedar dirasa-rasa bagaimana enaknya.

Referensi

 

 

 

Related posts:

Kajian Teknik Memainkan Angklu...
Secara kasat mata, nampak bahwa angklung adalah alat musik bambu yang terdiri atas kombina...
Kajian Variasi Angklung
Dari survey yang lebih luas, terungkap bahwa secara umum angklung bervariasi atas sistem n...
Isyarat Angklung Interaktif
Angklung interaktif adalah acara bermain angklung beramai-ramai secara langsung, tanpa pak...
Klungbot, Ancaman atau Pendoro...
Angklung adalah alat musik yang biasanya dimainkan oleh manusia beramai-ramai. Ketika munc...
Seberapa Universal-kah Musik A...
Dalam dunia angklung sering kali muncul peryataan bahwa musik angklung adalah musik yang u...
Angklung Untuk Pendidikan
Pada hari pendidikan nasional, bertemulah para seniman angklung dan pendidik di Saung Angk...
Aransemen Angklung 1 - Melodi ...
Kang Asep Suhada dan kang Budi Supardiman berbagi ilmu aransemen angklung di workshop klun...
Aransemen Angklung 2 - Bass
Dalam musik angklung, alat musik non bambu yang sering dipakai adalah bass betot. Suara ba...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


− 3 = one