Seberapa Universal-kah Musik Angklung?

Dalam dunia angklung sering kali muncul peryataan bahwa musik angklung adalah musik yang universal dan dapat memainkan segala jenis musik. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal tersebut dapat dibenarkan?? Apalagi angklung sebagai alat musik memiliki karakteristik yang unik sehingga saya merasa pasti ada batasan dalam memainkan musik yang dimiliki oleh angklung.

Batasan itu disebabkan oleh karakter alat musik dan bukanlah sebuah kekurangan, karena apabila karakter ini dapat dimaksimalkan maka musik yang dimainkan juga akan optimum. Mungkin tulisan ini bisa jadi perenungan teman2 yang membuat aransemen karena yang saya tulis disini hanyalah logika berfikir yang didasarkan pada hasil pengukuran. Saya sendiri tidak dapat menjelaskan jawabannya tanpa bantuan teman-teman arranger. Berikut akan dijabarkan beberapa aspek yang mungkin berkaitan dengan musik angklung yang bisa jadi bahan perenungan.

Tempo

Pertanyaannya adalah, seberapa cepat angklung bisa memainkan sebuah lagu. Masalah tempo ini akan saya kaitkan dengan seberapa cepat angklung dapat dibunyikan dan karakter permainan angklung. Dari hasil pengukuran waktu yang dibutuhkan untuk memainkan angklung dari mulai digoyangkan adalah 192-279 mili detik. Ini adalah waktu dari mulai digoyangkan belum termasuk respon manusia yang memainkannya. Dari nilai tersebut sebenarnya ada delay dari musik angklung untuk memainkan nadanya.

Aspek lain yang dilihat dari tempo ini adalah karakter bermain angklung yang harus dimulai sebelum nada sebelumnya selesai. Ada overlap nada yang dimainkan, dan dari hasil pengukuran saat tangan kita melepaskan angklung yang digetarkan bunyi yang dihasilkan butuh 346-902 mili detik. Jadi semakin cepat tempo lagu yang dimainkan maka suara yang dihasilkan akan semakin tidak jelas. Dalam membuat atau mengaransemen harus diperhatikan seberapa cepat lagu yang bisa dimainkan berkaitan dengan karakter suara yang dihasilkan dari angklung.

Kejelasan suara.

Kejelasan suara ini berkaitan dengan seberapa jelas not yang dimainkan pada sebuah lagu. untuk kejelasan suara ini akan saya kaitkan dengan parameter yang dinamakan tau-e.

Tau e adalah parameter yang berkaitan dengan berhubungan dengan lebar pita frekuensi. semakin kecil nilai tau-e maka lebar pita frekuensi akan semakin besar. Contoh suara yang memilik tau-e kecil adalah suara angin. contoh suara dengan tau-e besar adalah suara garpu tala. Musik angklung adalah musik dengan nilai tau-e yang kecil yaitu antara 17-50 milidetik. Untuk musik klasik adalah antara 50-200 milidetik. sehingga sangat masuk akal apabila suara angklung dikatangan mirip dengan suara angin karena memang pita frekuensinya lebar. Hal ini berkorelasi dengan kejelasan suara dari nada yang dimainkan. Apabila banyak nada dimainkan secara bersamaan maka suara yang dihasilkan akan tidak jelas. Dalam aransemen hal ini berkaitan dengan seberapa detil suara yang akan dimasukkan ke aransemen. Dari sini saya mulai mengerti mengapa aransemen padaeng terlihat sederhana, mungkin karena beliau sadar bahwa tidak perlu semua suara dimasukkan pada aransemen untuk membuat aransemen yang baik.

Karakter Suara

Perlu diingat bahwa angklung memiliki karakter suara yang unik dibandingkan dengan alat musik lain. Angklung menghasilkan suara dari getaran tabung bambu dan dianggap suaranya mirip dengan alat musik string yang digesek. Pernah dilakukan pengukuran suara getaran angklung dan dari hasil pengukuran getaran angklung didapatkan bahwa kemampuan menggetarkan angklung orang awam adalah sekitar 14 getaran / detik dan untuk orang yang sudah dilatih getaran angklung bisa meningkat sampai sekitar 15 getaran/detik. Mungkin bedanya hanya 1 getaran/ detik tapi pengaruhnya signifikan terhadap karakter musik. Oleh karena itu dasa memainkan angklung adalah hal yang penting.

Hal lain yang penting adalah kadang beberapa arranger memaksa memainkan semua alat musik dengan angklung. Hal itu tidaklah bijaksana mengingat setiap alat musik memiliki karakter alat musiknya sendiri, sehingga sebaiknya dipilih musik yang karakternya memang cocok dimainkan dengan angklung.

Efek Stereo

Salah satu keunikan angklung yang tidak dimiliki alat musik lain adalah musik angklung memiliki efek stereo yang melebihi musik lain. Hal ini disebabkan nada pada alat musik angklung yang disebar dalam suatu tim sehingga nada akan muncul dari posisi yang berbeda setiap saat. Secara alami pun manusia lebih menyukai suara yang berbeda antara telinga kanan dan kiri. Hal ini yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal karena belum banyak gedung konser dengan kondisi akustik yang baik. Dalam aransemen musik angklung sebenarnya dapat dibuat kondisi dimana pemain dipisahkan dalam beberapa kelompok dan memainkan lagu secara cannon atau bergantian sehingga efek stereo akan makin terasa. Dalam kondisi ini ada 2 efek stereo yaitu dari alat musik yang disebar dan musik yang dimainkan secara tandem dari posisi yang berbeda

Sistem tata suara

Kondisi yang ada sekarang adalah musik angklung banyak dibantu dengan sistem tata suara. Saya sendiri bukan orang yang anti terhadap sistem tata suara hanya saja ada beberapa detil yang sering terlupa. Contohnya adalah posisi mikrophone yang terlalu dekat dengan angklung atau accom sehingga suara yang terdengar adalah suara bambu bukan suara angklung. Setiap alat sumber suara memiliki apa yang disebut medan dekat dan medan jauh. Medan dekat adalah suara yang timbul di sekitar sumber suara yang berfluktuasi. Dalam angklung ini yang disebut suara bambu yaitu suara yang didominasi oleh tumbukan tabung bambu dan belum berinteraksi dengan resonansi pada tabung. Suara angklung adalah suara hasil interaksi suara pukulan tabung bambu dengan resonansi tabung.

Berkaitan dengan efek stereo seringkali musik angklung diambil dengan banyak mic kemudian digabung di mixer audio. Yang sering terlupa adalah penambahaan panning sehingga suara yang dimainkan di kiri memang terdengar dari speaker kiri, yang di tengah terdengar dimainkan di tengah dan yang dimainkan di kanan terdengar di kanan.

Mungkin tidak banyak yang bisa saya ceritakan tapi semoga ini bisa digunakan untuk memperbaiki musik angklung ini yang selama ini dimainkan.
_____________________________________________
Artikel ini adalah notes di facebook oleh : Anugrah Sabdono Sudarsono.

Dia adalah alumni S1 dan S2 Teknik Fisika ITB, banyak berkutat dengan angklung untuk tugas akhir S1 maupun thesis S2-nya di bidang akustik.

Related posts:

Rahasia Angklung Padaeng 1 - M...
Akhirnya setelah lewat 75 tahun, Pak Daeng Soetigna (alm) mendapat pengakuan resmi sebagai...
Doremi 1 - Notasi Dasar
Bulan November 2011, Klungbot III baru saja menjadi winner INAICTA 2011, dan didapuk jadi ...
Angklung
Angklung adalah alat musik tradisionil asal Indonesia yang terbuat dari bambu. Alat ini mu...
Suara 03 – Spektrum Suara
Jika suara sudah tercampur, mungkinkah kita memisahkannya lagi menjadi gelombang-gelombang...
Sesepuh-sesepuh Angklung
Angklung adalah alat musik tradisionil Indonesia yang sudah ada sejak jaman Hindu. Siapa p...
Rahasia Angklung Padaeng 2 - A...
Angklung akompanimen, dari namanya sudah jelas, bertugas sebagai pengiring dalam suatu pad...
Filosofi Angklung
Salah satu hal yang mengagumkan dari leluhur bangsa Indonesia adalah, mereka selalu punya ...
Makalah Klungbot ke Negara Jir...
Untuk memperkenalkan angklung di negeri sahabat, bulan november ini Eko M. Budi ikut konfe...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


7 + nine =